Live To Ride, Ride To Live
Sungguh penulis sangat suka mengendarai sepeda motor
Mengendarai sepeda motor memiliki sensasi tersendiri yang menurut hemat penulis tidak dapat dirasakan bila kita mengendarai kendaraan bermotor jenis lainnya. Penulis dalam hal ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan atau merendahkan kendaraan bermotor lainnya, seperti mobil, bus atau bajaj. Sungguh bajaj menurut penulis adalah simulator yang sangat baik yang dapat memberikan gambaran guncangan gempa bumi yang serupa dengan gempa bumi yang sebenarnya dalam skala 6,7 dalam skala Ritcher. Bus sendiri merupakan sarana pelatihan yang efektif untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar serta ajang latihan yang baik untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan jalan mengambil dompet, hp atau barang berharga penumpang lain tanpa ketahuan.
Oleh karena itu slogan Live To Ride, Ride To Live penulis anggap sesuai dengan diri penulis. Walaupun hal ini tidak didukung baik secara struktural maupun operasional dengan sarana penunjang (Baca : Sepeda Motor) yang dimiliki oleh penulis yaitu Honda Kharisma 125 cc. Akan tetapi penulis anggap kondisi tersebut tidak signifikan dan relevansinya bergantung kepada penghayatan seseorang terhadap barang yang dimilikinya. Penulis sendiri pernah membaca pada sebuah Harian Ibukota pada rubrik “Nah Ini Dia” para pengendara bermotor yang sedang berpacaran di atas sepeda motor Honda Supra akan menghayati sepeda motor mereka sebagai Honda Jazz. Walaupun hal ini belum penulis uji secara kualitatif atau penulis rasakan sendiri karena penulis adalah seorang jomblo tulen dan bila kejombloan penulis akan berlangsung hingga dua tahun lagi maka penulis akan mendapatkan predikat “Jomblo Perak” (diiringi dengan tangis dalam diri).
Pernah ada kehendak dalam diri penulis sendiri untuk mengajukan proposal (baca : rengekan) kepada pihak sponsor (baca : orang tua) penulis untuk melakukan tukar guling kendaraan operasional penulis dengan yang lebih baik. Akan tetapi penulis kembali diingatkan dengan peristiwa ketika penulis “menerbangkan” (Lift Off) sepeda motor Honda GL Pro milik teman penulis dari debu aspal jalanan menuju udara bebas selama beberapa saat hingga mendarat di sebuah sungai kecil yang mengalir indah dengan keanggunan seorang penari balet yang sedang membawakan tarian “Swan Lake”, rasa malu seorang koruptor yang tertangkap KPK di tempat kerjanya sendiri, dan ketakutan yang dirasakan seorang penderita phobia yang sedang menjalani proses flooding. Peristiwa ini amat berkesan dalam diri penulis dan memberikan insight pada penulis bahwa sandal jepit bukan untuk dimakan (lho???).
Pokoke intinya adalah proposal penulis ditolak, dan kemudian penulis melakukan beberapa “penyesuaian” dengan jalan mendistorsi realitas dan mengubah proses kognitif penulis untuk menghindarkan penulis dari kekecewaan yang mendalam yang dapat menimbulkan depresi (lebaiii…). Penulis kemudian berusaha untuk mencari keuntungan-keuntungan yang dimiliki oleh sepeda motor penulis. Salah satunya adalah dengan mempercayai bahwa sepeda motor penulis dapat dijadikan sebagai sarana dakwah bagi penumpang penulis yang mudah-mudahan dapat memberikan pahala bagi penulis yang dapat menghindarkan penulis dari panasnya api neraka.
Hal ini penulis simpulkan dari pernyataan orang-orang yang pernah ikut membonceng di sepeda motor penulis. Mereka mengatakan bahwa ketika penulis memboncengi mereka, sepanjang perjalanan mereka selalu teringat akan kematian. Mereka juga merasa bahwa kematian berada begitu dekat dengan mereka, sedekat bis, mobil dan lampu lalu lintas yang penulis lewati ketika lampunya masih berwarna merah. Walaupun begitu penghayatan mereka terhadap kematian ketika memboncengi motor penulis sangat berbeda satu sama lain Hal ini menurut penulis merupakan salah satu topik yang layak untuk diobservasi dan diteliti lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis ada penumpang penulis yang terus-menerus menangis sepanjang perjalanan, ada yang terus memanjatkan doa, bahkan ada yang bertindak histeris dan bersikap agresif kepada penulis dengan jalan mencubiti, mencakar dan memukuli penulis sembari meminta untuk diturunkan di jalan. Penulis merasa bahwa penulis berhasil membuat penumpang penulis untuk melakukan proses catharsis dengan jalan tindakan agresif kepada diri penulis, walaupun kemudian setelah itu penumpang penulis mendapatkan perawatan psikologis karena didiagnosa menderita post traumatic stress disorder beberapa bulan setelahnya. Hal ini penulis yakini akibat dari tayangan sinetron yang banyak ditayangkan stasiun TV. Sinetron memang berbahaya, dan penulis amat yakin bahwa menonton televisi dalam jangka panjang akan berdapak buruk bagi kesehatan mental dan perkembangan psikologis penontonnya. Walaupun hal ini belum dapat penulis buktikan secara empiris.
Sungguh penulis sangat suka mengendarai sepeda motor.
windfall said,
October 20, 2008 @ 7:46 am
nyeh…
sungguhpun tadinya pembaca *saya* kiranya ingin memberikan apresiasi positif, tapi karena penulis *Surjay* sudah me-narsis-kan diri via messenger yang terjadi ketika komen ini diketik, jadinya apresiasi positif itu entah kemana, gone with the wind…
koreksi, gone with the tornado
windfall said,
October 20, 2008 @ 8:04 am
tambahan:
bahwasanya penulis memang tidak berbohong dalam postingan ini lewat pernyataan seperti
bahwasanya penulis memang pernah belajar psikologi (katanya sekarang sudah sarjana), terbukti dengan pernyataannya bahwa
namun penulis juga orang yang dapat membuat orang sekitarnya menjadi religius (sungguhpun pernyataan ini juga masih bisa diperdebatkan), meski penulis bukanlah ulama, habib, atau ustadz. hal ini dapat dilihat dari pernyataan
kesimpulannya: dengan segala macam keahlian yang dimilikinya, penulis adalah orang yang suka mengendarai sepeda motor…
*kabur*
si cantik nunu said,
October 21, 2008 @ 2:22 am
haha,,uy kuy,,uy kuy,,,
gw gag nyangka,,kemampuan lo menulis tulisan populer jauh lebih bagus daripada tulisan lo dalam laporan ilmiah.. (baca: skripsi)
bagus,,bagus,,,haha…
btw,,gw sebagai salah satu penumpang setia lo,,gw amat sangat merasa tersanjung karena gw merasa ikut disebut2 dalam cerita lo itu.
tapi,,perlu diketahui,,bahwa kecintaan lo dalam mengendarai sepeda motor juga harus diimbangi dengan kapasitas (luasnya) jok motor.
karena seringkali tanpa lo ketahui,,gw ampir jatoh saking ga dapet tempat duduk (pantat lo kegedean)..
pipis,,lop,,n gawul…